Cerpen Persahabatan - Amity Ever After

Berikut ini adalah sebuah cerpen persahabatan sejati yang bisa kamu baca untuk mengisi waktu senggang.

Amity Ever After
Suasana kelas siang itu mendadak riuh dan kacau setidaknya mungkin hanya bagi Arin, ia berlari ke sudut kelas lalu duduk terdiam sambil menahan tangis . Gadis ini sudah tak kuasa lagi menahan beban di hatinya sendirian dan sahabat yang dulunya beucap akan selalu ada untuk Arin malah menjadi permasalahan dan menekan Arin sampai membuatnya merubah sikap terhadap sahabatnya,itu semua bukan tanpa alasan .

“Heran gue , mereka itu sahabat apa bukan sih Rin ? halaah ngecap setia dan mau temenin lo suka duka , tapi apa ? sahabat yang lo bangga-banggain selama ini, liat noh malah mereka yang ngancurin lo , emosi gue nih . Ngomong dong Rin !!! “ Tina yang tadi langsung mengejar Arin ke tempat persembunyian yang sudah sangat dia hafal  dan terus mengoceh meskipun orang yang sedang diajaknya bicara jelas jelas masih tak bergeming. Pikiran Arin masih dibanjiri dengan kata-kata yang menusuk hati sampai ke jantungnya sekalipun yang terlontar dari mulut Sista yang notabene salah satu anggota kelompok permainan Arin,Sista adalah sahabat yang paling dekat dengannya dan biasa menjadi tempat Arin bercerita . “ Dasar cewek munafik .. munafik.. munafik ..munafik..”  kata-kata itu terus berputar di kepala Arin dan membuatnya  bingung , ia merasa semua ini seperti mimpi dan ia sungguh-sungguh tidak percaya meskipun jelas saat ini hatinya terasa sangat sakit hingga membuatnya tersadar bahwa  semua ini memang bukan mimpi  .

Sejak pagi, Arin sudah menyadari adanya kejanggalan sikap Sista, Merry,dan Resti  terhadapnya . Awalnya ia tidak ingin mempermasalahkan hal itu hingga saat jam istirahat kedua tadi, mereka tiba-tiba mengajak Arin bicara di salah satu sudut sekolah dekat kafetaria . Disana, tidak hanya ada mereka, tapi Rico, Danny,dan Rezky kekasih Arin juga turut hadir . Arin masih tak mengerti asal usul semua yang terjadi padanya dan dia hanya bisa terduduk diam sambil mendengarkan apa yang  diucapkan mereka seolah sedang menghakimi Arin . Sepanjang pembicaraan ,Arin masih bersikap tenang tanpa menunjukan perubahan mimik sedikitpun , mencoba mencerna untaian kata-kata mereka satu persatu . “Jadi, selama ini lo nyembunyiin semuanya dari kita dan pura-pura care, pura-pura seneng , bahkan semua yang lo lakuin apa pura-pura juga ? “ucap Sista pada Arin sambil tertawa sinis .”Gue ga sebejad pikiran lo ya Sis ,”timpal Arin dengan nada sedatar mungkin berusaha untuk menahan bibirnya yang bergetar karena tak kuasa lagi menahan amarah dan kekalutan di dalam hatinya . Sahabatnya, bahkan kekasihnya sekalipun tiba-tiba menjaddi sosok-sosok ancaman bagi hidup Arin .

“Rico udah certain semuanya, jadi gue salah hah? Jadi selama ini buat apa kita ngejalanin hubungan ini kalo lo ga nyadar juga gimana pengorbanan gue dan sekeras apa gue berjuang buat dapetin lo, bahkan buat dapet nilai baik di mata lo Rin ! “ bentak Rezky yang membuat hati Arin semakin perih, terlebih ketika ia berpikir tentang Rico yang awalnya menjadi satu-satunya sahabat yang masih ia percaya ternyata menjadi dalang kesakitan hatinya. Memang Arin pernah bercerita pada Rico tentang perasaannya yang akhir-akhir ini galau dan ia sendiri masih bingung akan sebab -akibatnya, tapi yang benar-benar sulit Arin percaya adalah tentang penghianatan Rico terhadapnya yang menjadikan semuanya runyam bagi Arin .

“Bahkan lo nganggep kita semua pecundang yang suka ikut-ikutan dan lo sok tegar seorang diri gitu , dasar munafik ! lo tuh ga pernah ngehargain kita ya Rin, gausah deh kita bantu-bantuin selesein masalah orang munafik kaya lo!“ kata-kata itu terngiang di kepala Arin yang sudah hampir pecah dan membuatnya berusaha semakin keras untuk tidak menitikkan setetes air dari dalam mata bulatnya yang kini tertunduk bersama rintihan batinnya  . Arin hanya terdiam sampai waktu istirahat usai,bel masuk siang itu rasanya menjadi malaikat penyelamat Arin dari kisah traumatic yang masih dianggapnya sebagai tragedi mimpi .

Sepanjang jam pelajaran terakhir, otak Arin tidak menampung sedikitpun pelajaran dari gurunya siang itu dan yang terlintas di  kepalanya hanyalah kata-kata terakhir yang telah merobek hatinya . Ia tidak pernah menduga semua pencurahan hatinya akan berbuah petaka, padahal sikap diam dan tertutupnya beberapa hari terakhir ini sudah begitu membuat hatinya terbebani .

Noott…noott…nooott bel sekolah berdering tiga kali menandakan jam pelajaran usai dan waktunya pulang . Waktu yang biasanya menjadi saat yang paling dinanti Arin untuk segera tertawa riang  dengan sahabatnya ,namun pada siang itu berubah seolah menjadi mimpi buruk baginya dan yang ia inginkan hanyalah melenyapkan diri ke tempat dimana tidak seorangpun dapat menemukannya , sepertinya hal yang terjadi hari itu sudah cukup membuatnya tertekan, ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan itu lagi, meskipun harus , karena tadi Resti bilang bahwa sepulang sekolah mereka harus menyelesaikan semuanya, masalah Arin dengan Rezky yang membuat semua sahabatnya terlibat karena sahabat Arin adalah sahabat Rezky juga , semua yang berdasarkan persahabatan namun malah memperluas alur masalah ,khususnya bagi Arin .

“Gue gasuka masalah gue kalian umbar , masalah gue kalian gede-gedein . Ini hidup gue .Please ..gue juga pengen punya privasi meskipun kalian sahabat gue dan lo Ky,lo cowok gue . tapi ada saatnya gue harus nyimpen perasaan gue sendiri,ada hal-hal yang ga bisa gue bagi , hal-hal yang gue sendiri ga yakin tentang itu ,please … kalian sahabat gue kan ? Ky,lo sayang sama gue kan? Semuanya salah faham Ky, please ..” Arin tak kuasa lagi membendung tangisnya dan yang ia rasakan kini hawa dingin menyelimuti tubuhnya mungkin karena ketegangan dan beban yang ia tahan di dalam dadanya yang terasa sesak .

“Satu lagi , gue bukan orang munafik dan buat Rico ,gue tau gue yang salah tapi asal lo tau, gue kecewa sama lo” Arin terisak , ia meraih tas berbahan jeansnya dari bangku ruangan kelas kosong di samping kelasnya dan hendak meninggalkan pembicaraan menyakitkan ini, setidaknya ia ingin terbebas setelah menjelaskan dan meluapkan perasaannya walau tanpa mengetahui reaksi dan tanggapan yang akan mereka lontarkan pada Arin selanjutnya . Arin hampir berdiri untuk beranjak meninggalkan tempat duduknya , namun uluran tangan hangat  menarik lengannya dan menahan ia untuk pergi, kehangatan yang sudah sangat akrab untuknya dan kerap membuat ia nyaman hingga merasakan kedamaian . Rezky menatap Arin sambil menghapus rintik tangis gadis itu dengan punggung tangannya .

“Maafin gue ya Rin ..Gue juga sayang lo , gue akan selalu berusaha buat ngerti apa yang lo mau, apa yang lo butuh , tapi tolong jujur tentang apa yang lo alamin , lo boleh punya privasi , setiap orang punya privasi, tapi kita semua sayang sama lo. Kita ga akan tega liat lo tertekan ,Rin. Begitu juga dengan Rico ,dia ga berniat ngehianatin lo,Rin.“ jelas Rezky dengan suaranya yang lembut menenangkan hati Arin dan memulihkan kekacauannya . Terlihat Rico yang sedang berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya tersenyum pada Arin,mewakili kata”Ya” akan penjelasan Rezky.

“Iya, Rin. Maaf ya kalo kata-kata gue udah nyakitin perasaan lo , tapi semua itu karena gue kecewa sama lo yang ga percaya lagi sama kita , gue ngerasa lo beda . Gue mau kita saling berbagi ,mau itu susah atau seneng , dan lo cerita sama kita kalo sikap kita ada yang bikin lo ngebatin , jangan sampe lo pendam sendiri ya Rin “ lanjut Sista diikuti pelukan erat untuk sahabatnya tersayang, diteruskan dengan Resti dan Merry yang ikut memeluk Arin . Tangisan mereka pun pecah dan ruangan yang awalnya senyap kini diwarnai haru biru kisah persahabatan insan manusia yang terus-menerus belajar melalui kehidupan dan kesalahan .

***
Sekian cerpen persahabatan kali ini, tunggu update selanjutnya.

artikel terkait :
cerpen persahabatan - sebuah janji
cerpen persahabatan - kurelakan bahagiaku
cerpen persahabatan - antara sahabat dan cinta

Cerpen Persahabatan - Amity Ever After Rating: 4.5 Diposkan Oleh: kandu yung