Cerpen Cinta - Palsu

Aku membencimu dibalik semua rasa sayangku, aku membencimu yang meninggalkan ku tanpa kepastian, mengombang-ambingkakan perasaan. Tetapi aku juga merindumu melalui perhatian kecilmu, suara serakmu yang dulu sering menemani malamku, tatapan manis setiap kita bertemu. Aku tidak dapat memastikan mana rasa yang lahir terlebih dahulu lahir setelah kejadian ini semua.

“Drrrrttt…” bunyi getar HP sedikit meloloskanku dari malasnya bangun pagi dan sepertinya aku akan berterimakasih akan hal itu.
“Selamat Pagi. Jangan malas apalagi malas bangun :D , Selamat beraktifitas ya Have nice day”
Sedikit mengulum senyum membaca isi SMS itu dan mengetahui kamu pengirimnya. Entah kenapa meskipun masih pagi jantungku rasanya bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya, mengingat kamu yang selalu memberikan perhatian yang sama sekali tidak pernah dapat kutebak.



“Akhir-akhir ini kamu ceria banget, Cuma baca SMS aja senyumnya dilebarin sampai pulang sekolah”
Ternyata Sahabat adalah orang satu-satunya yang bisa membaca apapun yang berubah dari kita, meskipun hal-hal sepele.
“Dinda, ditanya kok malah ngelamun” Tegur Iza, yang sedari tadi aku rasa penasaran.
“Za, rasanya jatuh cinta itu apa kayak gini ya.. mikirin orang itu terus, kebayang-bayang, deg-degan setiap lihat dia…”
“Kamu jatuh cinta? Sama siapa? Kok gak pernah cerita sih! Terus cowoknya kayak gimana yang bisa membuat seorang Dinda yang cuek ini senyum-senyum gak jelas” Iza langsung memotong perkataanku dan membuat se-isi kelas XI IPA 1 ini menoleh karena suara cemprengnya.
“Sssttt… jangan keras-keras dong” Tegurku sembari menepuk lengan Iza. Gemas.
“Aku ketemu dia waktu ikut seminar HIV/AIDS kemarin di Balai Kota. Gak sengaja buku ku jatuh. Sorenya dia ke rumah, entah dia dapat darimana alamat rumah rumahku…”
Mengingatnya lagi, Semburat hangat itu mulai menjalar di pipiku. Tuhan, rasa apa yang sedang Engkau titipkan ini.

Jam sudah menunjukan pukul 4 sore, rasanya matahari masih enggan untuk meredupkan cahayanya. Ku percepat jalanku menuju Taman kota, kupikir daripada duduk diam di rumah lebih baik jalan-jalan sore bersama sahabatku.
“Lama gak? Sorry telat”
“Udah hafal kok, baru datang juga” Aku merasa malu dengan diriku sendiri, sebenarnya kita berjanji pukul 3 sore, tetapi karena aku lagi-lagi malas bangun dari tidur tak sengaja sepulang sekolah tadi.
Kusapukan pandangan ke seluruh sudut taman yang dibangun 3 tahun lalu ini, secara tidak sengaja aku melihat seseorang sejak sebulan yang lalu datang ke rumahku dan setelahnya berhasil membuat aku selalu tersenyum sepanjang hari karena perhatian kecilnya.
“Hey..”
Astaga Tuhan! Dia melambaikan tangan ke arahku. Kali ini benar-benar diluar kemampuanku, aku merasa jantungku benar-benar bekerja tiga kali lipat. Semburat hangat itu mulai menjalar di pipiku. Perpaduan yang tepat dan membuatku salah tingkah, ketika dia mulai berjalan ke arah ku.
“Dinda kan? Apa kabar?” Sapanya ramah.
“Emm… baik, kamu sendiri?” Tuhan, aku mohon jangan buat aku terlihat aneh di hadapan dia.
“Baik juga” Jawabnya sembari mengulas senyum di bibir tipisnya.
Rasanya aku akan kecanduan terhadap senyumnya setelah ini, mata yang memancarkan keramahan alami dan senyum yang berhasil membuatku menunduk karena takut jika dia mengetahui pipiku memerah saat ini.
“Sendiri ya” Ucapnya memecah lamunan singkatku.
“Gak kok, sama temen”
“Mana?”
“Tadi sih…” tanpa sadar ternyata Iza sudah tidak di sampingku. Kuedarkan pandangan ke seluruh taman.
“Dinda, Maaf tadi pergi gak bilang kamu kebelet banget, eh ini siapa?” Seperti biasa ocehan Iza yang tiba-tiba sukses membuatku dan Rian namanya. Kaget.
“Andrian, panggil aja Rian”
“Aku Iza” Ujar Iza, sembari melirikku yang masih manata kembali kerja jantungku.



“Oh, jadi ceritanya ketemuan gitu. Pantes mau aja waktu diajak ke taman” Ujar Iza keesokan harinya di sekolah.
“Beneran deh gak sengaja kemarin” Sanggahku sembari menahan rasa hangat yang mendadak muncul lagi.
“Iya deh, tapi mukanya jangan disembunyiin gitu” Kelakar Iza yang berhasil membuatku salah tingkah lagi.



Setelah “pertemuan tidak sengaja” sewaktu di taman, kini mendadak semua berubah menjadi “pertemuan sengaja”.
Menikmati senyum di bibir tipisnya. Pancaran mata ramahnya. Kini semuanya nyata ada di depanku. Dan tidak hilang pula kebiasaan anehku muncul ketika melihat dia.
“Ngelihatnya kedip dong, salting nih aku” Tegurnya yang membuyarkan lamunanku sembari terus sibuk menulis di kertas yang dibawanya.
“Oh” Ujarku gelagapan dan berusaha menyembunyikan wajahku yang memerah tidak sengaja.
“Gak usah sibuk salting sendiri dong, kamu cantik waktu wajahmu memerah gitu”
Lagi-lagi dia membuatku semakin salah tingkah tetapi membuatku tersenyum dalam hati.
“You’re my inspiration” Gumamnya singkat dan membuatku tidak bisa berkata apapun.



“Aku merasa kehilangan sahabat yang sebenarnya. Kehilangan senyum kamu, semangat kamu. Come on, Buat apa sedih terus. Kalau dia benar sayang sama kamu, pasti kembali kok”
Aku tidak menduga sebelumnya, rasanya hari itu terakhir aku akan bertemu dengan dia, yang berhasil membuatku berubah dalam sekejap, merasakan yang sebelumnya belum pernah aku rasakan. Jantung yang bekerja lebih cepat. Rasa hangat yang aneh. Ketika mengingatnya. Tapi, semua itu juga hilang dalam sekejap juga. Berganti rasa bimbang dan kacau.
“Orang jatuh cinta itu gak Cuma siap seneng aja, kamu harus siap melepaskan juga”
“Melepaskan itu mudah, melupakan itu butuh perjuangan” Sanggahku ke Iza, yang sedari tadi mungkin sudah sebal dengan kelakuanku.
Semenjak saat itu, Rian tak pernah menghubungiku lagi. Sudah aku coba menghubunginya, tapi nyaris tidak ada respon. Dia menghilang. Dia pergi. Saat aku benar-benar memantapkan perasaan ini.



3 bulan semenjak kejadian itu, aku masih meraskan kehilangan. Merasakan sakitnya ditinggalkan. Merasakan kacaunnya hariku setelahnya.
Merindukan pesan yang selalu memenuhi kotak masukku. Merindukan suara serak yang sering memberiku semangat. Dan merindukan senyum di bibr tipisnya. Aku sadar ini tak wajar, merasa kehilangan yang tidak pernah dimiliki, merindukan yang tak pernah tau bahwa dirindu. Aku benci ini semua.
“Pesanannya ini” Suara lembut seorang Waitress membuyarkan lamunan ku. Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa sering melamun. Terkadang aku bertanya apa se-kehilangan itukah aku? Apa aku terlalu nyaman dulu? Apa dulu aku terlampau percaya bahwa dia yang akan menemani hari ku? Aku mengaku salah. Terlalu berharap. Terlalu percaya.
“Hey…” Suara serak yang kurindukan. Ini nyata atau hanya ilusi. Memastikan bahwa ini nyata, aku menoleh dengan rasa was-was. Benar. Dia
Tetapi ada seorang wanita merengkuh lengannya dengan manja.

Cerpen Karangan: Fitri Elisa
Blog: Fitrielisa.blogspot.com
Facebook: Fitri Elisa


Demikian cerita pendek romantis kali ini, jangan lupa datang kembali untuk melihat kumpulan cerpen cinta romantis terbaik lainnya yang ada di blog ini.

Cerpen Cinta - Palsu Rating: 4.5 Diposkan Oleh: kandu yung

0 komentar:

Poskan Komentar